AFN V2

Welcome, Guest
Username Password: Remember me

(Parasit Akidah) Beduk....
(1 viewing) (1) Guest
  • Page:
  • 1

TOPIC: (Parasit Akidah) Beduk....

(Parasit Akidah) Beduk.... 25 Jun 2013 18:04 #1

Beduk

Sebagian sekte Hindu beranggapan bahwa dhak (beduk) itu semula dibawa dewa-dewa dari Swarga (Syurga). Di Kuil Iswara di Halebeid Maisur India yang dibangun oleh Raja Narasingha (1136-1171 M), dilukiskan dewa-dewa sedang membawa beduk.

Menurut sebagian sekte Hindu, Surya menghentikan keretanya tepat tengah hari, sehingga segala pekerjaan harus berhenti, sebab akan keluarlah dewa-dewa jahat. Untuk tanda harus meninggalkan pekerjaan dan diam sejenak itu, dipukullah dhak (beduk). Dalam Surya Deul (Pura hitam) di Konarak, Orissa, dipatungkan kereta Surya tengah berhenti.

Ketika Islam tersebar di Asia Tenggara dan sekitarnya, banyaklah kuil-kuil berbeduk yang dijadikan masjid. Beduk dalam kuil tersebut tidak disingkirkan tetapi dimanfaatkan, hanya cara dan waktu menabuh beduk itu disesuaikan dengan shalat lima waktu.

Dalam tarikh dan hadits Nabi Saw: Ketika telah turun perintah shalat lima waktu, timbullah gagasan mencari alat penyeru pada shalat itu. Ada yang mengusulkan mempergunakan canang (lonceng), Rasulullah Saw menolaknya dengan tegas, kerana canang (lonceng) itu telah dipergunakan oleh orang Nasrani. Ada yang mengusulkan terompet, Rasulullah Saw pun menolaknya, kerana telah dipergunakan oleh orang Yahudi. Lalu, ada yang mengusulkan api, itu pun ditolaknya kerana menyerupai peribadatan Majusi dan kemudian ditetapkan dengan azan.

Sesungguhnya beduk telah dipergunakan dalam agama Yang (Tu dan Yang adalah agama yang timbul di kawasan Asia Tengah, akan disentuh kemudian).  Beduk atau genderang (gendang) dalam agama Yang dipergunakan untuk memanggil arwah atau mengusirnya, misalnya di kelenteng Kong Hu Cu dan Shinto.

Jika alat-alat yang digunakan oleh mereka - ahli kitab - ditolak oleh Nabi Saw, maka bagaimanakah kiranya jika mempergunakan beduk yang berasal dari ajaran Hindu dan kelenteng itu? Ada yang berpendapat bahwa dalam Islam meniru peribadatan luar termasuk bid'ah yang membawa kepada syirik.

Wallahu a'lam.

Re: (Parasit Akidah) Beduk.... 25 Jun 2013 20:04 #2

  • Nadim
  • OFFLINE
  • Platinum Boarder
  • Posts: 1712
Budaya hindu terlalu banyak pengaruhi kehidupan kita...sehingga kalau kita perasan,orang hindu akan senyum sinis jika perbuatan/amalan kita menyerupai amalan dia,malah digalakkan lagi oleh mereka dan terus diorang nak semakin rapat seolah nak bersedara dgn kita...

Persoalannya,macamana kita nak hindari masalah tu...contoh kalau kita cakap nak pegi sembahyang...diorang tahu,tuhan diorang nama "hyang"...jadi kita sebut sembah "hyang"...diorang akan pandang kita dengan pelbagai persoalan...

jadi eloklah depan orang india ni kita sebut nak pergi solat bukan sembah "hyang"...w.a.

Re: (Parasit Akidah) Beduk.... 01 Jul 2013 00:17 #3

  • stuka
  • OFFLINE
  • Gold Boarder
  • Posts: 269
abuariffin wrote:
..Jika alat-alat yang digunakan oleh mereka - ahli kitab - ditolak oleh Nabi Saw, maka bagaimanakah kiranya jika mempergunakan beduk yang berasal dari ajaran Hindu dan kelenteng itu? Ada yang berpendapat bahwa dalam Islam meniru peribadatan luar termasuk bid'ah yang membawa kepada syirik..

Mohon syeikh abuariffin bagi garispanduan batas pembezaan (differentiating line) utk tentukan sesuatu amalan yg punyai sejarah silam yg menjurus kpd syirik tapi kini dianggap cumalah setakat sejarah lampau (yakni kini dilakukan tanpa niat mengikuti ajaran2 asal tersebut)?

Satu contoh ialah bulan sabit yg bnyk jadi simbol kpd institusi islam dan logo. Sejarah lampaunya (ribuan tahun dulu) ia dilukis utk mewakili bulan yg dianggap tuhan (lunar gods). Malah di atas kepala patung shiva hindu zaman ni pun ada bulan sabit
Last Edit: 04 Jul 2013 02:49 by stuka.

Re: (Parasit Akidah) Beduk.... 01 Jul 2013 01:15 #4

bagi saya tidak perlu dibesar2kan isu begini kerana hampir semua budaya ada unsur2 keagamaan yg lampau. Yg penting niat dan trend amalan pd zaman semasa. Kalau budaya trrsebut yg dipraktikan zaman ni wujud trend utk tujuan syirik maka haramlah ia. Jika tidak....tak perlu haram. Pengharaman suatu budaya hanya kerana wujud kaitan dgn agama bagi saya dpt menyekat dakwah sepertimana org cina yg byk agung2kan budaya mereka...sedangkan byk budaya mereka mempunyai unsur2 mistik dan khirafat. Apakah kita mahu katakan pd mereka berhenti amalkan budaya tersebut sebelum masuk islam?

Re: (Parasit Akidah) Beduk.... 05 Jul 2013 18:57 #5

Sekadar perkongsian maklumat,

Fenomena yang terjadi di lingkungan pada sesetengah daerah dan negeri di Nusantara masih lagi berkait rapat dengan isu-isu yang diketengahkan. Mungkin di antara kita tidak berkesempatan melihat atau berdepan secara langsung dengan acara ritual yang mereka anggap sebagai ibadah.

Sebaiknya terlebih dahulu kita mengenal apa yang disebut 'urfi atau ma'ruf. 'Urfi atau ma'ruf diartikan kebiasaan, adat, sopan santun, aturan yang dianggap baik. Ulama menuturkan bahwa dalam ilmu Ushul Fiqh 'urfi itu ada dua macam:

1. 'Urfi shahih, ialah segala sesuatu yang sudah dikenal oleh umat manusia, yang dianggap baik dan ada manfaatnya, namun tidak bertentangan dengan syariat Islam, tidak termasuk tasyabbuh atau menyerupai ibadah dan agama di luar islam. Misalnya upacara serah terima pengantin, padahal peribumi dan pihak tamu sudah saling mengenal dan sudah ada perjanjian. Contoh lain adalah memberi tanda mata saat khitbah, sebagai tanda bahwa perempuan itu telah dikhitbah.

2. 'Urfi fasid, ialah adat dan kebiasaan yang tidak dapat difahami maksudnya dengan meniru aqidah atau ibadah lain di luar Islam. Misalnya dengan menabur beras atau makanan melintasi kepala pengantin (saweran) saat upacara pernikahan dengan harapan agar kedua mempelai mendapat berkah, kaya, dan makmur dalam berumah tangga. Disebut sawer kerana kerana tempat upacara itu harus di panyaweran (halaman rumah tempat air jatuh dari genting saat hujan). Tetapi di kampung waktu dahulu mempelai akan duduk di atas pelamin dan ditaburkan beras kunyit dan direnjis dengan air mawar.

Saya pernah disoal oleh cucu saya yang berumur 14 tahun dengan beberapa pertanyaan di antaranya: Mengapa diberi nama "Bubur Putih Bubur Merah" dengan buburnya separuh berwarna merah dan separuh berwarna putih?, Mengapa "Pulut Kuning" yang di buat seperti bukit dan dihiasi dengan bunga telur berwarna merah?, mengapa "Kain Penutup Keranda" jenazah dibubuh daun pandan dan bunga-bungaan? dan berbagai lagi soalan yang harus saya jawab supaya dia dan teman-teman di sekolahnya faham dengan dalil-dalil agama dan fakta sejarah.

Dan di thread (Parasit Akidah) dengan beberapa tajuk hanya sebagai bahan bacaan saja dan saya sering menggunakan ayat isyarat 'sekadar perkongsian maklumat'. Apa pun bagi yang ingin membacanya silakan, tiada niat untuk dibesar-besarkan. Ianya juga sebagai menyahut seruan mantan CEO kita akhi Mus agar terus bersama al-fikrah.net menyumbang sesuatu bahan buat kita menatapnya. Bagi yang berminat kepada isu-isu lain dengan tajuk yang berbeda, teruskan berdiskusi dan saya setia membacanya.
Last Edit: 06 Jul 2013 00:40 by abuariffin.
The following user(s) said Thank You: stuka, Nadim

Re: (Parasit Akidah) Beduk.... 06 Jul 2013 00:58 #6

Lalu bagaimana dengan seruan "Jangan Iltibas!" yang sering diperingatkan oleh para ulama dan da'i buat kita?

Bukankah Allah Swt melarang Iltibas, iaitu mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil; memadukan iman dengan syirik, mencampur yang halal dengan yang haram, menyatukan yang baik dengan yang jelek, mensejajarkan kejahatan dengan kebaikan.

Apa sebenarnya yang disebut mencampur aduk amal dan mengapa disebut Iltibas?
Apakah larangan itu termasuk haram?
Bagaimana kisah yang terjadi pada zaman Rasulullah Saw?
Apakah praktik Iltibas itu ada di saat ini?
Bagaimana menanganinya?

Allah Swt berfirman yang maksudnya: "Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang alhaq (kebenaran) kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. Dan sekali-kali janganlah kamu termasuk orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang rugi (QS. Yunus: 94-95).

Wallahu a'lam.
The following user(s) said Thank You: stuka

Re: (Parasit Akidah) Beduk.... 06 Jul 2013 01:35 #7

  • stuka
  • OFFLINE
  • Gold Boarder
  • Posts: 269
abuariffin wrote:
... mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil; memadukan iman dengan syirik, mencampur yang halal dengan yang haram, menyatukan yang baik dengan yang jelek, ...

Bagaimana nak kaitkan iltibas dgn situasi yg perlu dipertimbangkan manafaat vs mudharat, atau pemilihan antara 2 mudharat?

Re: (Parasit Akidah) Beduk.... 06 Jul 2013 07:17 #8

  • shim
  • OFFLINE
  • Platinum Boarder
  • Posts: 505
abuariffin wrote:

Dalam tarikh dan hadits Nabi Saw: Ketika telah turun perintah shalat lima waktu, timbullah gagasan mencari alat penyeru pada shalat itu. Ada yang mengusulkan mempergunakan canang (lonceng), Rasulullah Saw menolaknya dengan tegas, kerana canang (lonceng) itu telah dipergunakan oleh orang Nasrani. Ada yang mengusulkan terompet, Rasulullah Saw pun menolaknya, kerana telah dipergunakan oleh orang Yahudi. Lalu, ada yang mengusulkan api, itu pun ditolaknya kerana menyerupai peribadatan Majusi dan kemudian ditetapkan dengan azan.

Sesungguhnya beduk telah dipergunakan dalam agama Yang (Tu dan Yang adalah agama yang timbul di kawasan Asia Tengah, akan disentuh kemudian).  Beduk atau genderang (gendang) dalam agama Yang dipergunakan untuk memanggil arwah atau mengusirnya, misalnya di kelenteng Kong Hu Cu dan Shinto.

Jika alat-alat yang digunakan oleh mereka - ahli kitab - ditolak oleh Nabi Saw, maka bagaimanakah kiranya jika mempergunakan beduk yang berasal dari ajaran Hindu dan kelenteng itu? Ada yang berpendapat bahwa dalam Islam meniru peribadatan luar termasuk bid'ah yang membawa kepada syirik.

Wallahu a'lam.


sesiapa yang menyerupai suatu kaum (agama) maka dia adalah sebahagian dari ahli kaum (agama) tersebut.
Nabi suruh guna azan.
apa yang berlaku adalah takdir
bagaimana menghadapi takdir, itu adalah ujian
  • Page:
  • 1
Time to create page: 0.26 seconds
You are here: